RSS

Rumah Adat Palembang

03 Nov
Rumah bari Palembang (rumah adat limas) merupakan rumah panggung kayu. Bari dalam bahasa Palembang berarti lama/kuno. Dari segi arsitektur, rumah-rumah kayu itu disebut rumah limas karena bentuk atapnya yang berupa limasan. Sumatera Selatan adalah salah satu daerah yang memiliki ciri khas rumah limas sebagai rumah tinggal. Alam Sumatera Selatan yang lekat dengan perairan tawar, baik itu rawa maupun sungai, membuat masyarakatnya membangun rumah panggung ditepian Sungai Musi masih ada rumah limas yang pintu masuknya menghadap ke sungai.
Rumah panggung secara fungsional memenuhi syarat mengatasi kondisi rawa dan sungai seperti di Palembang, yang sempat dijuluki Vanesia dari timur karena dari ratusan anak sungai yang mengelilingi wilayah daratannya. Batanghari Sembilan adalah sebutan sungai-sungai yang bermuara ke Sungai Musi.
Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Enim, Sungai Hitam, Sungai Rambang, Sungai Lubay. Namun seiring berjalannya waktu, lingkungan perairan sungai dan rawa justru semakin menyempit. Rumah-rumah limas yang tadinya berdiri bebas ditengah rawa/diatas sungai akhirnya dikepung perkampungan.
Ada dua jenis rumah limas di Sumatera Selatan, yaitu rumah limas yang dibangun dengan ketinggian lantai yang berbeda dan yang sejajar. Rumah limas yang lantainya sejajar ini kerap disebut rumah ulu.
Bangunan rumah limas biasanya memanjang kebelakang. Ada bangunan yang ukuran lebarnya 20 m dengan panjang mencapai 100 m. Rumah limas yang besar biasanya melambangkan status sosial pemilik rumah. Biasanya pemilik rumahnya adalah keturunan keluarga.
Kesultanan Palembang, pejabat pemerintahan Hindia Belanda/saudagar kaya.
Bangunan rumah limas memakai bahan kayu unglen atau merabu yang tahab air. Dindingnya terbuat dari papan-papam kayu yang disusun tegak. Untuk naik kerumah limas dibuatlah daun undak-undakan kayu dari sebelah kiri dn kanan.
Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis dibalik pagar kayu itu adalah untuk menahan supaya anak perempuan tidak keluar dari rumah. Memasuki bagian dari rumah, pintu masuk kerumah limas adalah bagian yang unik. Pintu kayu tersebut jika dibuka lebar akan menempel kelangit.langit teras. Untuk menompangnya digunakan kunci dan pegas.
Bagian dalam ruangan tamu, yang disebut kekijing, berupa pelataran yang luas ruangan menjadi pusat kegiatan berkumpul jika ada perhelatan. Ruang tamu sekaligus menjadi ‘ruang pamer’ untuk menunjukkan kemakmuram pemilik rumah. Bagian dinding ruangan dihias dengan ukiran bermotif flora yang dicat dengan warna keemasan. Tak jarang, pemilik menggunakan timah dan emas dibagian ukiran dan lampu-lampu gantung antik sebagai aksesori.
Bagian pemilik rumah yang masih memerhatikan perbedaan-perbedaan kasta dalam keturunan adat Palembang, mereka akan membuat lantai rumahnya bertingkat-tingkat untuk menyesuaikan kasta tersebut.

Salah satu rumah limas yang menghormati perbedaan adat itu adalah rumah limas milik keluarga almarhum Bayumi Wahab. Lantai rumah itu dibuat menjadi tiga tingkat sesuai dengan urutan keturunan masyarakat Palembang, yaitu Raden, Masagus, dan Kiagus. Rumah yang berada dijalan Mayor Ruslan ini awalnya berdiri di daerah Tanjung Sejaro, Ogan Komering Ilir. Rumah ini di pindahkan ke Palembang tahun 1962, tetapi rumah tersebut tidak lagi dipakai sebagai hunian sehari-hari

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 3, 2011 in Palembang, Rumah adat

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: