RSS

Arsip Tag: peradaban sungai gangga

Peradaban Lembah Sungai Gangga

Pusat Perdabaan

Lembah Sungai Gangga terletak antara Penggunungan Himalaya dan Penggunungan Windya-Kedna. Sungai itu bermata air di penggunungan Himalaya dan mengalir melalui kota-kota besar seperti Delhi, Agra, Allahabad, Patna, Benares, melalui wilayah Bangladesh dan bermuara di teluk Benggala. Sungai Gangga bertemu dengan Sungai Kwen Lun. Dengan keadaan alam seperti ini tidak heran bila Lembah Sungai Gangga sangat subur.

Pendukung peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Aria yang termasuk bangsa Indo German. Mereka datang dari daerah Kauskasus dan menyebar kearah timur. Kebudayaan lembah Sungai Gangga merupakan kebudayaan campuran antara kebudayaan bangsa Aria dengan bangsa Dravida. Kebudayaan campuran itu lebih dikenal dengan sebutan kebudayaan Hindu. Hal ini disesuaikan dengan nama daerah tempat bercampurnya kebudayaan, yaitu daerah Shindu atau Hindustan.

Peradaban lembah Sungai Gangga meninggalkan jejak yang sangat penting dalam sejarah umat manusia hingga kini. Di tempat ini muncul dua agama besar di dunia, yaitu agama Hindu dan Buddha.  Agama Hindu lebih dahulu daripada agama Buddha. Agama Hindu lahir dari kebudayaan campuran bangsa Aria dan Dravida itu. Bahkan peradaban dan kehidupan bangsa Hindu tersebut tercantum dalam kitab suci Agama Hindu, yaitu kitab Weda, Brahmana, dan Upanisad. Agama Hindu merupakan perwujudan dari system kepercayaan peradaban bangsa Hindu. Sungai Gangga dianggap sebagai tempat keramat dan suci bagi penganut Hindu India. Air Sungai Gangga dianggap dapat menyucikan diri manusia dan menghapus semua dosanya. Mereka memuja banyak dewa (polytheisme)

Sementara itu, agama Buddha lahir sebagai bentuk reaksi beberapa golongan atas ajaran kaum Brahmana. Golongan ini dipimpin oleh Siddharta Gautama. Ia adalah seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu yang meninggalkan hidup penuh kemewahan dengan menempuh jalan kesederhanaan untuk menghindari penderitaan. Setelah sekian lama pencarian dengan jalan bertapa, akhirnya Siddharta mendapat sinar terang menjadi Sang Buddha yang berarti “Yang Disinari”. Lambat laun agama Buddha mulai diterima masyarakat India dan menyebar ke berbagai belahan dunia. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, kedua agama / budaya ini mempunyai pengaruh cukup besar dalam perkembangan sejarah dan budaya Indonesia di masa awal.

 

Pemerintahan

Perkembangan sistem pemerintahan di Lembah Sungai Gangga merupakan kelanjutan dari system pemerintahan masyarakat di daerah lembah Sungai Sindhu. Sejak runtuhnya kerajaan Maurya, keadaan menjadi kacau akibat terjadi peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil yang ingin berkuasa. Keadaan ini baru dapat diamankan kembali setelah munculnya Kerajaan Gupta.

Kerajaan Gupta Kerajaan Gupta didirikan oleh Raja Candragupta I (320-330 M) dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candra-gupta I, agama Hindu dijadikan agama Negara, tetapi agama Buddha tetap dapat berkembang.

Kerajaan Gupta mencapai masa yang paling gemilang ketika Raja Samudra Gupta (cucu Candragupta I) berkuasa. Seluruh lembah Sungai Gangga dan lembah Sungai Sindhu berhasil dikuasainya. Ia menetapkan kota Ayodhia sebagai ibu kota kerajaannya.

Raja Samudragupta digantikan oleh anaknya yang bernama Candragupta II (375-415 M). Candragupta II terkenal sebagai Wikramaditiya. Seperti raja-raja Gupta lainnya, ia beragama Hindu. Namun, ia tidak memandang rendah dan tidak mempersulit agama Buddha. Bahkan pada zaman pemerintahannya berdiri Universitas Gupta sebagai perguruan tinggi agama Buddha di Nalanda.

Di bawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat makmur dan sejahtera, banyak gedung indah didirikan. Perdagangan dan pelayaran makin maju. Kesenian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan berkembang pesat. Kesusasteraan mengalami masa yang gemilang, bahkan pada zaman ini terkenal seorang pujangga yang bernama pujangga Kalidasa dengan karangannya berjudul Syakuntala. Perkembangan seni pahat dan seni patung mencapai kemajuan yang pesat, sehingga patahan-patahan dan patung-patung terkenal menghiasai kuil-kuil di Syanta.

Setelah meninggalnya raja Candragupta II, kerajaan Gupta mulai mundur. Hampir dua abad, India mengalami masa kegelapan dan baru pada abad ke-7 M tampil seorang raja kuat yang bernama Harshawardana.

Kerajaan Harsha Ibu kota kerajaan Harsha adalah Kanay. Salah seorang Rajanya, yaitu Harshawardana, adalah seorang pujangga besar. Pada zamannya kesusasteraan dan pendidikan berkembang pesat. Pujangga yang terkenal pada  masa kekuasaanya bernama pujangga Bana dengan buku karangannya berjudul Harshacarita.

Pada mulanya raja Harsha memeluk agama Hindu, tetapi kemudian memeluk agam Buddha. Wihara dan Stupa banyak dibangun di tepi Sungai Gangga, juga tempat-tempat penginapan dan rumah-rumah sakit didirikan untuk memberika pertolongan dengan cuma-Cuma. Candi-candi yang rusak diperbaiki, bahkan candi-candi baru juga dibangun.

Setelah masa pemerintahan Raja Harshawardana hingga abad ke-11 M tidak pernah diketahui adanya raja-raja yang berkuasa. India mengalami masa kegelapan.

 

Bentuk Kebudayaan Lembah Sungai Gangga

Perkembangan kebudayaan masyarakat Lembah Sungai Gangga mengalami banyak kemajuan pada bidang kesenian. Kesusastraan, seni pahat dan seni patung berkembang pesat. Kuil-kuil yang indah dari Syanta dibangun.

Daerah-daerah yang diduduki oleh bangsa Indo-Arya sering disebut dengan Arya Varta (Negeri Bnagsa Arya) atau Hindustan (tanah milik bangsa Hindu). Bangsa Dravida mengungsi ke daerah selatan, kebudayaannya kemudian dikenal dengan nama kebudayaan Dravida.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2012 in sejarah, Tugas Sekolah

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.